petropolisinc.org – Indeks Ketahanan Pangan nasional saat ini tercatat pada angka 73,2, dengan target peningkatan menjadi 82 pada tahun 2029. Hal ini disampaikan oleh Staf Ahli Bidang Pemerataan Pembangunan Regional Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Tri Dewi Virgiyanti, saat konferensi Sustainable Development Annual Conference (SAC) 2025 di Jakarta.
Peningkatan ini merupakan bagian dari agenda transformasi sistem pangan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang berfokus pada penguatan pangan lokal, kemandirian pangan, dan keberlanjutan sistem pangan berbasis kawasan ekologi. Tri menjelaskan bahwa ketahanan pangan adalah salah satu indikator penting dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Untuk mencapai target ini, pemerintah telah merumuskan berbagai strategi, di antaranya penguatan pangan lokal, peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perikanan, serta efisiensi tata kelola sistem pangan. Kolaborasi antara pemerintah daerah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat juga dianggap krusial dalam mendukung transformasi pangan yang berkelanjutan.
Tri juga menggarisbawahi perlunya diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada impor beras. Ia mencatat bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan pangan berbasis laut, yang tidak hanya kaya akan protein tetapi juga berkontribusi terhadap ekonomi biru.
Pemerintah turut mengimplementasikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penyediaan menu bergizi sesuai dengan preferensi lokal dan meningkatkan diversifikasi produk pangan berbasis sumber daya daerah. Program ini diharapkan dapat membantu dalam membangun sistem pangan nasional yang tangguh.