petropolisinc.org – SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, baru saja mengalami kerugian signifikan yang mencapai hampir USD 5 miliar atau sekitar Rp 85 triliun pada tahun 2025. Meski demikian, hal ini tidak menghentikan langkah SpaceX untuk melanjutkan rencana Penawaran Umum Perdana (IPO) yang dijadwalkan pada Juni 2026, dengan target valuasi mencapai USD 1,75 triliun atau Rp 29.750 triliun.
Kerugian yang dialami oleh SpaceX terjadi di tengah total pendapatan yang sangat besar, yaitu lebih dari USD 18,5 miliar (Rp 314,5 triliun). Dalam konteks sebelumnya, tahun 2024 adalah tahun yang sangat menguntungkan bagi perusahaan ini, di mana mereka mencatatkan keuntungan sekitar USD 8 miliar (Rp 136 triliun) dari pendapatan antara USD 15 hingga USD 16 miliar (Rp 255 triliun – Rp 272 triliun).
Mengapa perusahaan yang mengalami kerugian besar tetap mendapatkan dukungan dari para investor? Penyebab utamanya terletak pada strategi agresif yang diambil oleh Elon Musk, yaitu akuisisi startup kecerdasan buatan (AI) miliknya, xAI, pada Februari 2025. Langkah ini bukan hanya sekadar mengambil alih bisnis, tetapi juga bagian dari visi besar Musk untuk mendirikan pusat data AI yang beroperasi di orbit Bumi.
Perkembangan ini mencerminkan ambisi Musk yang luar biasa dalam dunia teknologi dan antariksa. Dengan rencana IPO yang ambisius, SpaceX tidak hanya ingin menjadi pemimpin dalam industri antariksa, tetapi juga dalam pengembangan teknologi AI yang berpotensi mengubah wajah industri di masa depan. Meskipun menghadapi tantangan keuangan, optimisme investor terhadap visi jangka panjang SpaceX tetap tinggi.