petropolisinc.org – Iran meningkatkan serangan siber terhadap infrastruktur Amerika Serikat dan Israel dengan memanfaatkan kekuatan peretasnya. Para ahli keamanan siber memperingatkan bahwa pertahanan siber AS semakin rentan terhadap serangan ini.
Awal bulan ini, ketika sirene rudal berbunyi di Israel, ribuan warga menerima pesan mendesak untuk mengunduh aplikasi tempat perlindungan yang ternyata palsu. Tujuan dari pengiriman pesan tersebut adalah untuk mencuri data pribadi secara massal. Insiden ini adalah bagian dari kampanye siber yang lebih luas di mana Iran meluncurkan serangan bersamaan dengan peluncuran rudal.
Chris Krebs, mantan Direktur Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS, menegaskan bahwa Iran menggunakan seluruh kapasitas kemampuan sibernya. Ia menambahkan bahwa setiap elemen dalam struktur keamanan siber negara tersebut dianggap terlibat secara aktif, menciptakan ancaman yang lebih besar bagi musuh-musuhnya.
Iran menjalankan operasi peretasan melalui tiga tingkatan. Tingkatan pertama dioperasikan oleh Korps Garda Revolusi Islam dan Kementerian Intelijen. Tingkatan kedua terdiri dari kelompok peretas semi-otonom serta penjahat siber yang dikontrak, sedangkan tingkatan ketiga melibatkan para sukarelawan yang memiliki keahlian di bidang keamanan siber.
Meskipun Iran mungkin memiliki kemampuan teknologi yang lebih rendah dibandingkan dengan Rusia atau China, mereka berhasil memanfaatkan kelemahan dalam infrastruktur keamanan siber AS. Ini menunjukkan betapa pentingnya kesiapsiagaan dan peningkatan sistem pertahanan untuk melindungi data dan informasi penting di era serangan siber yang kian meningkat.