petropolisinc.org – Pada malam 3 April, sebuah jet tempur F-25E milik Angkatan Udara Amerika Serikat ditembak jatuh di atas wilayah udara Iran. Operasi penyelamatan untuk kedua pilot berhasil dilakukan, menandai insiden pertama jet tempur AS yang jatuh di Iran sejak dimulainya konflik. Berdasarkan laporan dari Global Defense Corp, sistem rudal AD-08 Majid milik Iran diduga menjadi pelaku peristiwa tersebut.
AD-08 Majid adalah sistem pertahanan udara jarak pendek yang mulai beroperasi sejak 2021, dirancang untuk melindungi area tertentu. Berbeda dengan sistem seperti S-300 atau Patriot, yang dapat dengan mudah terdeteksi oleh satelit, Majid memiliki kemampuan untuk melakukan misi pertahanan dengan cara yang lebih tersembunyi. Sistem ini dapat menargetkan berbagai jenis ancaman, termasuk drone, rudal jelajah, helikopter, dan objek bergerak lainnya.
Adapun komponen utama dari sistem AD-08 Majid meliputi sensor penargetan elektro-optik (EOTS) yang dibuat oleh L3Harris, sebuah perusahaan teknologi asal Amerika, untuk membantu dalam identifikasi dan pelacakan target. Sistem ini juga dilengkapi dengan kontrol tembakan dan peluncur yang memiliki empat struktur peluncur rudal, serta rudal anti-pesawat AD-08.
Para ahli militer percaya bahwa Iran mungkin menggunakan jaringan pembelian yang terdesentralisasi untuk menyembunyikan identitasnya saat memperoleh peralatan militer barat. Reg pemerintah Iran dilaporkan telah membentuk entitas-entitas sementara di negara-negara dengan tingkat transparansi yang rendah, seperti Hong Kong dan beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia, untuk mendapatkan komponen yang diperlukan.