petropolisinc.org – Tas tangan yang terbuat dari kulit dinosaurus baru-baru ini diluncurkan, memicu kontroversi ilmiah yang menarik perhatian publik. Pada 2 April, di Amerika Serikat, ilmuwan dan desainer memperkenalkan tas yang menggunakan kolagen yang diekstrak dari fosil Tyrannosaurus rex (T. rex). Kreasi ini bertujuan untuk menunjukkan potensi kulit yang dapat ditumbuhkan di laboratorium.
Tas berwarna turquoise ini saat ini dipajang di Art Zoo Museum di Amsterdam, Belanda, hingga 11 Mei, diletakkan dalam sangkar di bawah model T. rex. Setelah pameran, tas ini akan dilelang dengan harga penawaran awal yang diperkirakan melebihi USD 500.000. Menurut tim pengembang, material tas ini dihasilkan dari fragmen protein kuno yang diambil dari tulang dinosaurus yang telah menjadi fosil. Kolagen ini kemudian ditanamkan ke dalam sel hewan sebelum akhirnya diproses menjadi kulit.
Proyek yang melibatkan The Organoid Company, Organoid, dan VML ini sebelumnya juga menghasilkan inovasi dengan menggabungkan DNA mammoth berbulu dengan sel domba untuk menciptakan bakso raksasa. Thomas Mitchell, CEO dari The Organoid Company, menyatakan bahwa proses pengembangan tas “kulit Tyrannosaurus Rex” ini dipenuhi tantangan teknis yang signifikan.
Sementara itu, Che Connon dari Lab-Grown Leather Ltd. menjelaskan bahwa asal usul dari T. rex memberikan daya tarik unik bagi produk tersebut. Ia menambahkan bahwa tas ini merupakan alternatif ramah lingkungan yang tidak hanya menggantikan kulit asli, tetapi juga menunjukkan kemajuan teknologi dalam industri mode. Kontroversi ini menunjukkan pergeseran dalam paradigma penggunaan bahan baku, terutama yang berhubungan dengan keberlanjutan dan inovasi.