petropolisinc.org – Sebanyak 35 kasus stunting teridentifikasi di Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara, Kepulauan Riau. Kasus tersebut ditemukan di empat kelurahan dan satu desa yang berada di bawah pengawasan Puskesmas Mentigi. Temuan ini mengundang perhatian banyak pihak terkait penanganan masalah kesehatan bayi dan anak.
Kepala Puskesmas Mentigi, dr. Wulan, mengungkapkan bahwa faktor pola asuh yang kurang tepat menjadi penyebab utama stunting di wilayah tersebut. Selain itu, faktor ekonomi dan kebiasaan makan anak juga turut memengaruhi kondisi ini. “Faktor pola asuh yang paling dominan yang kami temukan,” ujar dr. Wulan.
Lebih lanjut, dr. Wulan menjelaskan bahwa pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia anak, kurangnya penerapan aturan makan, serta kecenderungan anak untuk mengonsumsi jajanan manis merupakan penyebab utama terganggunya perkembangan mereka. Ia menambahkan bahwa siklus tidur yang tidak teratur dan kesibukan orang tua yang bekerja juga menjadi faktor penghambat.
Untuk menangani stunting, Puskesmas Mentigi mengimbau para orang tua untuk lebih aktif memantau tumbuh kembang anak melalui posyandu dan konseling gizi secara rutin. “Batasi makanan dan minuman manis serta cepat saji untuk kesehatan anak yang lebih baik,” kata dr. Wulan.
Ketua TP PKK Kabupaten Bintan, Hafizha Rahmadhani, menekankan bahwa prevalensi stunting di Tanjunguban masih cukup tinggi dan memerlukan perhatian serius. “Ini adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat,” tegannya. Upaya kolaboratif sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah kesehatan ini demi masa depan generasi penerus.