petropolisinc.org – Akselerasi transisi energi dan revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diharapkan dapat menjaga keandalan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia amid eskalasi konflik di Timur Tengah. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyatakan pentingnya pemanfaatan sumber energi terbarukan, seperti energi dari air, angin, dan solar, untuk mengurangi ketergantungan pada BBM impor.
Dalam pernyataannya, Bhima menggarisbawahi bahwa percepatan elektrifikasi, terutama dalam transportasi publik dengan kendaraan listrik, akan berkontribusi pada pengurangan ketergantungan tersebut. Selain itu, pengurangan penggunaan energi fosil dalam pembangkit listrik pun dianggap sebagai langkah penting untuk meredakan dampak lonjakan harga minyak global terhadap perekonomian domestik.
Bhima juga menekankan perlunya penguatan bantalan fiskal untuk memastikan kesehatan keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) energi, termasuk Pertamina dan PLN. Ia menilai revisi APBN perlu segera dilakukan agar dapat mengantisipasi lonjakan subsidi energi seiring dengan potensi peningkatan harga minyak dunia. Realokasi anggaran, menurutnya, sebaiknya diarahkan pada pos subsidi energi tanpa menambah utang baru untuk menjaga kondisi fiskal tetap terkendali.
Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah meningkat, dengan laporan tentang serangan dari AS dan Israel terhadap target di Iran, yang memicu balasan dari Iran dengan serangan rudal ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS. Dampak dari konflik ini terlihat dengan terjebaknya sekitar 300 kapal tanker di Selat Hormuz, rute utama untuk pasokan minyak dunia, yang seharusnya menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Keberadaan konflik ini menambah kekhawatiran terkait stabilitas pasokan energi global.